Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah Ja'far Ash Shiddiq,biasa di panggil Ja'far,Apang,Far..(UP TO YOU).Anak paling tinggi,paling tua,laki sendiri. :D

Jumat, 25 Februari 2011

Kesederhanaan Presiden Iran "Mahmoud Ahmadinejad"


Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga dan terheran-heran :

1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP,lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.


3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

5. Ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran.

Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya.

Hanya itulah yang dimilikinya, seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan.

Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.

9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan.

Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.

Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi.

12. Sepanjang sholat, ia tidak duduk di baris paling muka

13. Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa

14. baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar Yaitu Menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh.

Kamis, 24 Februari 2011

Mentor Bang Caku

Assalamu'alaikum..

"Apa kabar teman pembaca? Saya sedang ingin membagikan materi tentang mentor kami tadi di FISIP UI. Waw! Sangat melelahkan sekali tadi harus pulang sampai malam, tapi demi kebaikan kami Insya Allah ikhlas karena Allah Ta'ala. Jadi gini Sob ceritanya....."

Sore hari yg melelahkan setelah bermain basket dan cabut/gk di informasikan ada SC jadinya kabur dah. Ane dan Jundi sedang menunggu Ashar di masjid MAN 7 untuk mentor bersama bang Caku. Sedikit BeTe (Boring Time) sih, tapi tak apalah. Kita kan niatnya sedang menunggu kebaikan. "Ah kelamaan yah sob ceritanya kalau pake intro dulu, jadi ane langsung TO THE POINT aja dah. Jadi begini."

Kata Bang Caku kita itu harus bersyukur dengan mengambil sebuah tindakan bukan hanya sebuah ucapan. Seperti para sahabat, ketika mereka mendapatkan apa yg mereka inginkan mereka langsung mensodakohkan/ memberikan/ menakafkan/ harta apa saja yg telah mereka raih, agar mereka tidak terlena dengan segala pemberian Allah yg telah mereka beri.Dan kita juga harus banyak" minta sama Allah, karena Allah senang kepada hambanya yg masih mengingatnya. Dan satu lagi nih, kita tuh paling takut minta sama Allah hal yg macam", seperti kaya, punya harta, dll. Toh kita sebenarnya juga minta sama Allah adalah bisa merasakan Syurga, mengapa kita tak berani minta yg macam" seperti urusan dunia, padahal urusan dunia dan urusan akhirat sangat berbeda jauh sekali.Tapi setiap permintaan itu harus juga di iringi oleh beberapa hal penting dan juga di balik permintaan kita itu kita juga harus bisa memberikan sebuah rasa terima kasih, dengan seperti akan banyak" ibadah, sodakoh, akan mengamalkan segala pemberian Allah. Pertama, Bagaimana usaha kita dalam mewujudkan mimpi kita itu, apa dengan terus berdoa saja tanpa ada usaha? Kedua, kita bergerak dan bekerja keras untuk mencapainya? Contoh dari kak caku (tapi contoh ini agak nyindir dikit). Misalnya kita melihat seorang akhwat yg solehah, cakep, pintar, anggun, dll yg menurut kita pas lah buat kita. Kita tuh harus berfikir! Bukan bagaimana kita mendapatkanya tapi bagaimana kita bisa menjadi dia, kan pasangan hidup kita adalah cerminan diri kita. Contoh lagi, Kita punya masalah nih, bukan bagaimana kita memikirkan "wah masalah lagi, rasanya gw pingin mati aja!" bukan lah! tapi kita tidak boleh menutup diri juga, jika kita malu curhat dengan manusia, kita juga bisa curhat sama Allah lewat tahajud dll, nah pas situ kan kita juga bisa meminta sesuatu. Terus juga dalam pikiran kita itu harusnya bagaimana cara menyelasikan masalah, bukannya seperti tadi. Nah kalau semua mimpi dan asa kita telah tercapai, tunjukan rasa terima kasih kita pada Allah. Dengan apa? ya tadi, misal kita diberikan ilmu yg banyak, amalkan ilmu itu kepada orang lain, atau dapet rejeki nomplok, bagi" ke orang kurang mampu, atau dapet apalah, rajin" dah ibadah, sunah dibanyakin wajib dimantapin. dll. Asik kan kita masih punya Allah, Allah ada jika umatnya mau mencarinya tapi bagaimana usaha kita juga.

Udah dulu sob, ane lagi sibuk nih, jadi ada scene yg di cut, padahal seru tuh. bagaimana ane dan jundi ke FISIP UI pake seragam SMA udah disangka sama anak" kuliah orang nyasar, ceng"an ane dengan haikal wah seru dah klo ikut mentor ane, bagaimana rakusnya kami dalam menghabiskan makanan, kami memang agak gk berperi makanan dan minuman. SO teman" Wassalam...

Istiqomah Dalam Menghadapi Hidup

Assalamu'alaikum.
Ini adalah pesan ane ketika mentoring ane. Jadi mari kita semua ikut mentoring! asik kok, di jamin!

suatu ketika Abu Ubaidah di utus nabi Muhammad untuk mencegah kafilah dagang Abu Sofyan karena pada waktu itu umat islam yg berada di madinah sedang mengalami masa kesulitan mendapatkan pangan,dan juga di akibatkan karena perang ekonomi antara umat islam dan kaum kafir.Maka berangkatlah Abu Ubaidah menuju daerah perlintasan dagang kafilah Abu Sofyan,tapi jarak dari madinah ke daerah pencegatan sangat jauh kira2 sekitar 1 bulan perjalanan dan nabi hanya membekali Abu Ubaidah dan kawannya yg berjumlah 30 orang hanya dengan sekarung kurma.Tapi Abu Ubaidah tidak mengeluh kepada nabi,dia hanya menjalankan tugasnya untuk mencegat dan merampas dagangan Abu Sofyan untuk umat islam di Madinah.Maka ia mengatur siasat bila pada siang hari 1 orang memegang kurma lalu dihisapnya dari pagi dan sampai malam tiba baru kurma itu mereka telan.Begitulah mereka selama perjalanan,tapi suatu ketika disaat para pasukannya Abu Ubaidah yg letih itu tiba2 bertemu dengan sebuah bukit pasir yg berbeda dengan pasir yg lain,karena apabila pasirnya di injak maka dia akan menghisap,maka Abu Ubaidah segera menggali sebuah bukit aneh ini.Dan akhirnya mereka terkejut karena menemukan sebuah bangkai ikan yg sangat besar dan kira2 dalam shirah diameter bola matanya bisa muat sampai dimasuki 5 orang.Maka Abu Ubaidah menjadi bingung,karena ditengah kelaparan yg membayangi pasukan muslim dan umat muslim yg di Madinah.Maka Abu Ubaidah melakukan tindakan dari pada kita harus menumpahkan darah dengan kafilah Abu Sofyan maka mereka inisiatif untuk memotong daging ikan ini dan bola matanya di buat minyak samin yg sangat melimpah,merek berfikir karena tugas mereka di utus nabi Muhammad hanya untuk mencari sumber makanan.Maka akhirnya mereka membawa semua potongan daging yg berhasil mereka bawa beserta bagian tubuh ikan yg sepantasnya masih bisa digunakan.Sesampainya di Madinah Rasulallah menyambut mereka dan merasa sangat senang karena mereka berhasil membawa banyak makanan.Dan akhirnya Abu Ubaidah memberitahukan masalah mereka.Lalu nabi menjawab bahwa itu adalah sebuah pertolongan Allah yg datang secara tidak terduga karena kalian mau istiqomah dalam menjalani kehidupan,kalian tidak mengeluh dengan perbekalan yg kalian bawa karena hanya sedikit,kalian tidak mengeluh dengan jarak perjalanan yg jauh."

Dari cerita di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa setiap kehidupan adalah sebuah misteri yg tidak kita ketahui.kita tidak tahu bahwa didepan itu ada apa,dan 1 kunci sukses kalian dalam menghadapi hidup yaitu istiqomahlah di jalan Allah,jalani hidup dengan kemampuan kalian,jangan pernah mengeluh dengan masalah hidup kalian.karena disetiap akhir dari masalah yg tidak bisa kita selesaikan maka pertolongan Allah pasti akan datang.Bila kata TUNG DESEM WARINGIN"Bila disebuah jalan lurus dan kita tahu bahwa didepan itu adalah jalan buntu,maka teruskan saja perjalanan kita karena pasti dijalan buntu itu pasti ada sebuah celah kecil untuk melewatinya."

Jadi kita tidak boleh menyerah sebelum kita menjalankanya,hidup adalah rahasia dan tugas kita adalah menguak rahasianya.

Hikmah di Balik Sholat Tepat Waktu part 2

Assalamu'alaikum.

Ini adalah cerita ane yang terusan part 1 terdahulu. so check this out!

Waktu itu pas ane sama bang caku,endra,dan haikal lagi pulang setelah mengikuti acara di masjid istiqlal.kami kan naik kereta api dari stasiun juanda.nah kemungkinan pada saat itu saya dapet kereta terakhir tujuan bogor

karena saya pulang sudah cukup sore,bahkan hampir maghrib.nah pas di jalan2 tiba2 tuh kereta mogok mulu,lama bgt sampe pegel berdiri plus desak2an sambil nahan napas dan kedinginan karena udah bau pas bgt di bawah kipas angin.akhirnya tuh kereta terus kaya gitu ampe maghrib menjelan dan kami masih berada di jalan rel kereta yg pas pada saat itu jalananya berada di atas tanah jadi kalau mau balik dan mau naik angkot gk bisa karena yah gitu dah.Akhirnya nyampe juga ke stasiun manggarai setelah berjam2 nunggu di kereta.Nah kak caku tiba2 ngomong."klo kaya gini mulu nanti kita turun aja dah di stasiun pasar minggu buat solat maghrib klo emang kita nyampe sana pas 06.30."Tapi ini kan jam 06 lewat kak.ane ngomong gitu.sambil kepanasan.yah kami juga berfikir bahwa kereta yg kami naiki ini sepertinya adalah kereta yg terakhir dan kalau kami turun di stasiun manggarai nanti naik kendaraan umumnya agk jauh.setelah nunggu hampir setengah jam dan tuh kereta belum jalan2 juga.akhirnya kami memutuskan unutk solat maghrib di manggarai untuk solat maghrib sambil pasrah dengan kereta terakhir ini.yah paling kita nyampe rumah malem2,dari pada harus ninggalin solat maghrib.nah pas itu udah dah kami solat berjamaah di mushola yg sangat pas2an bahkan kurang dari pas2an.tapi gk apalah daripada harus berkerubung di dalam kereta yg panas dan rata2 pada belum solat nanti nih kereta kena karma lagi,walau dengan perasaan pasrah karena ini kereta terakhir.nah pas selesai solat dan kami langsung keluar ke stasiun untuk keluar tapi kami lihat ternyata tuh kereta yg kami naikin belum berangkat juga.dan hebtnya ada kereta dari arah bogor ke stasiun manggarai yg muter balik untuk pergi ke Bogor lagi jadi ada 2 tuh yg ke bogor.nah kami langsung lari aja dikiraiin tuh kereta mau berankat cepet eh ternyata jalanya hampir gk berapa lama dari kereta pertama yg kami naikin dan enaknya lagi ini kereta sepi banget.jadi kasian ngeliatin kereta disebelah demi mempertahankan bagian posisi yg tidak enak hanya demi naik kereta daripada menunaikan solat berjamaah.padahal rejeki Allah datang dari arah yg tak terduga,dan ini memang kami akui adalah mu'jizat solat berjamaah.bisa naik kereta yg kosong pada tujuan yg sama.


Hikmah di Balik Sholat Tepat Waktu part 1

Assalamu'alaikum.

ini ceritanya pas ane lagi mau pulang ke Jakarta .Ternyata dibalik solat fardhu 5 waktu itu memiliki mukjizat tersendiri yang tidak bisa dirasakan langsung.Jadi gini ceritanya

waktu itu ane kan mau pergi ke rumah saudara yg di Jakarta nah pas itu ane mau naik kereta ekonomi AC yang kebetulan pada siang itu cuma ada 2 jadwal keberangkatan,dan pada saat itu ane datangnya kepagian jadi harus nunggu kereta dari jam 9 pagi sampe 12 siang.nah itu kejadian pas bulan ramadhan jadi pasti banyak orang pada tadarus Al-qur'an.ya ane juga ikut2an aja.Nah kan bete tuh di stasiun nugguin kereta ampe tengah siang akhirnya an coba nyari2 masjid2 sambil istirahat aja di masjid kan daripada nunggu di tempat duduk pas samping rel kereta bosen,mending istirahat di masjid sekalian solat dhuha.akhirnya ketemu masjid tuh dan lumayan masjidnya enak dan nyaman jadi dari pada nunggu kereta sambil bengong gk menentu mending sambil tiduran di masjid.

Eh tau2 gk kerasa udah hapir jam 12.nah di jadwal keberangkatan kereta ekonomi AC tiba di stasiun depok baru tiba jam 12.15 nah pas jam 12.00 udah azan yah karena bedanya 15 mnit dan ane pikir masih bisa naik kereta ekonomi AC yah mending ane dahulukan solat zuhur berjama'ah di masjid.ya udah akhirnya ane ke masjid deket stasiun.Tapi eh tau2 pas udah takbiratul ikhram pertama tuh kereta ekonomi AC udah tiba dan bikin solat ane terganggu.Ane tiba2 jadi gelisah karena yg ane ingat cuma ada 2 kereta dan kereta yg kedua sekarang sedang menunggu di stasiun depok lama untuk kebarangkatan ke-2.mana pas duduk di antara 2 sujud tuh kereta dah jalan ane kepikiran wah klo ini kereta jalan dan tiba2 kereta yg ke-2 tiba ane bakalan cabu dari solat dan langsung ngibrit ke kereta.abisan nunggu berjam2 cuma untuk kereta ekonomi AC harus kelewatan gra2 solat.

Eh tiba2 ane teringat dgn perkataan kakak mentor ane bahwa Allah mencintai dan akan memberikan sesuatu yg tak terduga melalui jalanya sendiri,so ya udah ane lanjutin solatnya ampe roka'at terahkir.

eh ternyata benar pas udah solat ane langsung cabut ke tempat nunggu kereta and subhanallah plus buset gila stasiun langsung sepi kaya abis perang dunia ke-2.perasaan sebelum solat rame bgt sampe tilawah qur'an ane diri.dan gk ada tempat tuk gerak,tapi ini kosong amat.dan ternyata ada pengumuman "teng teng teng kereta ekonomi AC tujuan jakarta sedang menuju stasiun depok baru dari stasiun depok lama.ya udah ane harap2 cmas moga ni informasi beneran.Dan ternyata subhanallah plus buset sepi amat nih kereta ekonomi AC serasa nih kereta mang udah di sediain buat ane khusus.orang dari ujung sana ampe sini sepi bgt.Tiba2 sayup2 teredengar dari penjaga stasiun."wah ini kereta beda amat dari pada yg pertama padahal kereta ekonomi AC pertama rame amat udah kaya yg naikinnya se RW bahkan lbih tapi ini udah kaya lapangan bola.saat itu juga ane bersyukur sama Allah karena telah menunjukan mu'jizatnya dengan kereta yg sepi dan karena saya solat berjamaa'ah ketimbang mikirin jadwal kereta.subhanallah.

Jadi teman kalau berada ditengah kesulitan dan kebimbangan usahakan lah percaya dgn janji Allah insya Allah itu rasanya sangat manis.(padahal ane sendiri klo udah di rumah paling males solat berjamaah di masjid)hahaha...

assalamu'alaikum.

untuk part 2 itu kejadianya pas di manggarai tunggu aja kisah selanjutnya!salam super

Tragedi Karbala

Matahari bersinar garang, tepat di atas kepala-kepala berbalut sorban yang telah basah bermandikan keringat dan debu. Seorang pria setengah baya berteriak keras, “Hentikan pertempuran! Waktu Zhuhur telah tiba, kita harus shalat!!”

Sia-sia.......

Suara pria gagah itu lenyap ditelan gemuruh ribuan pasukan musuh yang terus merangsek maju. Ia mengeluh. Perlahan ia memutar pandangan ke sekelilingnya. Satu.. dua.. tiga.. hanya tinggal belasan orang saja kerabatnya yang masih bertahan hidup. Dengan tenaga yang masih tersisa pedang mereka menebas ke kanan dan ke kiri, menumbangkan satu persatu musuh yang mencoba mendekat.

Pria yang berjuluk Sayyid Syabab Ahlil Jannah itu kembali menghela nafas. Ketika matahari terbit pagi itu, ada tujuh puluh dua orang keluarga dan sahabat prianya yang berdiri gagah di belakangnya. Namun kini tinggal beberapa...

Memang. Apalah arti tiga puluh dua penunggang kuda dan empat puluh orang pejalan kaki, dibanding empat ribuan orang pasukan musuh. Satu persatu anggota pasukan kecil itu tumbang sebagai syahid. Dan ketika matahari mulai tergelincir ke barat, hanya tinggal orang saja yang tersisa, berjuang membela harga diri, kehormatan dan kebenaran yang mereka yakini.

Padang tandus itu masih mengepulkan debunya ke udara. Tak hanya pengap gurun yang tercium, udara ditepian sungai Eufrat siang itu juga mulai menebarkan bau amis darah.

Siang itu, terik mentari padang pasir menjadi saksi sebuah peristiwa kelam yang terus dikenang hingga saat ini, Perang Karbala. Perang, yang terjadi antara Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya melawan tentara Dinasti Umayyah yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash dan Syimar bin Dziljausyan, itu nyaris memusnahkan keturunan Rasulullah dari garis Al-Husain. Konon, pertempuran tak berimbang yang tak ubahnya pembantaian itu sudah diramalkan Nabi Muhammad SAW di hari Al-Husain lahir.

Dikisahkan, 57 tahun sebelumnya, ketika mendengar Fatimah Az-Zahra telah akan melahirkan putra keduanya, Rasulullah segera bergegas menjenguknya. Tak lama kemudian tangis sang jabang bayi pun pecah. Tangis itu sangat keras, sekokoh hati pemiliknya. Nabi Muhamad lalu meminta cucunya itu dibawa ke pangkuannya untuk dibacakan adzan dan iqamah.

Asma binti Umais, sahabat Anshar yang membantu Fatimah saat melahirkan, segera menggendong bayi merah itu dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi. Setelah diadzani dan diiqamati, sang jabang bayi lalu diberi nama Al-Husain, semakna dengan nama sang kakak yaitu Al-Hasan yang berarti kebajikan.

Ketika tengah asyik menciumi sang cucu, tiba-tiba Nabi termangu dan meneteskan air mata. Umais pun segera bertanya, “Mengapa di hari bahagia ini Anda menangis, wahai Rasulullah?.”

“Jibril baru saja memberitahu kepadaku, kelak anak ini akan dibunuh oleh sebagian umatku yang durhaka. Jibril juga menunjukkan tanah di mana Al-Husain terbunuh.”

Ibnul Atsir, dalam tarikh Al-Kamilnya, menceritakan, Nabi pernah memberikan segumpal tanah berwarna kekuningan kepada Ummu Salamah, salah satu istri beliau, yang didapat dari Malaikat Jibril. Tanah tersebut, menurut kabar dari Jibril, berasal dari daerah di mana Al-Husain akan terbunuh dalam sebuah pertempuran.

Nabi berpesan kepada Ummu Salamah, “Simpanlah tanah ini baik-baik. Bila warnanya berubah menjadi merah, ketahuilah bahwa Al-Husain telah meninggal dunia karena dibunuh.”

Dan, tepat pada tanggal 10 Muharram 57 H, Ummu Salamah menyaksikan gumpalan tanah pemberian suaminya berubah warna menjadi merah. Tahulah ia, cucu kesayangan Rasulullah itu telah meninggal dunia. Ummu Salamah adalah orang pertama di Madinah yang mengetahui perihal kematian Al-Husain. Dari mulutnya pula berita duka itu menyebar ke segenap penjuru kota dan menggemparkannya.

Perang Karbala’ adalah tragedi terbesar kedua dalam sejarah Islam setelah beberapa perang saudara pada masa pemerintahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yakni Perang Jamal, yang menghadapkan Ali bin Thalib dengan Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Aisyah Ummul Mukminin, dan Perang Shiffin, antara tentara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Sebagaimana perang saudara sebelumnya, Perang Karbala juga menghadapkan dua tokoh generasi kedua Islam yang merupakan putra sahabat-sahabat terdekat Nabi, Al-Husain putra Sayyidina Ali dengan Umar putra Sa’ad bin Abi Waqash yang mewakili Yazid bin Muawiyyah dan gubernurnya di Kufah, Ubaidullah bin Ziyad.

Matahari terus bergerak ke arah barat. Menyadari pasukan musuh sama sekali tak berniat menghentikan pertempuran, bersama sisa pengikutnya Al-Husain pun mendirikan shalat khauf, shalat darurat di tengah medan perang. Di antara mereka tampak adik tirinya, Abbas; putra kedua Al-Husain, Ali Al-Akbar; dan kemenakannya, Qasim bin Hasan bin Ali. Bergantian mereka melaksanakan ruku’ dan sujud, sementara yang lain berusaha melindungi dengan pedang dan tombak.

Matahari semakin menyengat ketika shalat khauf usai. Kembali Imam Husain dan para pengikutnya berjuang mempertahankan diri. Dan kembali, satu persatu anggota pasukan kecil itu berguguran, hingga akhirnya tinggal Al-Husain, Ali Al-Akbar bin Al-Husain, dan Abbas saja yang tersisa.

Dengan gagah berani Ali Akbar menerjang musuh dan berhasil menumbangkan tiga atau empat orang musuh sebelum sebuah sabetan pedang membuatnya terluka parah. Ia mundur mendekati sang ayah karena merasa sangat kehausan. Namun sejak pagi, persediaan air rombongan Al-Husain telah habis. Sementara untuk mengambil dari sungai Eufrat yang tak seberapa jauh juga tak memungkinkan, karena ribuan tentara Umayyah berbaris menjaganya.

Dengan wajah iba Al-Husain menentramkan putranya, “Bersabarlah anakku, sebelum petang Datukmu Rasulullah SAW akan datang untuk memberimu minum dengan kedua tangan beliau yang mulia.”

Mendengar ucapan sang ayah yang menjanjikan kesyahidan, semangat Ali Akbar kembali tersulut. Ia segera kembali ke tengah pertempuran dan menumbangkan dua atau tiga lawan. Langkah pemuda pemberani terhenti ketika sebatang anak panah menembus lehernya. Ali Akbar menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuang sang ayahanda.

Tiba-tiba dari dalam tenda seorang perempuan menghambur keluar dan berlari menuju Imam Husain yang tengah memangku jasad Ali Akbar. Tangisnya pecah saat memeluk jenazah kemenakan tercintanya. “Terkutuklah orang-orang yang telah membunuhmu, Anakku,” raung Zainab binti Ali, adik kandung Al-Husain. Kematian Ali Akbar menggenapkan dukanya setelah sepagian melihat tiga putranya Aun Al-Akbar, Muhammad dan Ubaidullah gugur di medan perang Karbala’.

Al-Husain, sambil membawa jenazah Ali Akbar, segera menarik adiknya kembali ke tenda. Tiba-tiba dari arah belakang kemudian terdengar teriakan seorang bocah kecil, “Hai orang jahat! Kau mau membunuh pamanku?.”

Dengan berani anak itu menghadang laju seorang prajurit Umayyah yang akan membokong Al-Husain. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat kayu. Sejurus kemudian Qasim bin Hasan bin Ali, demikian nama anak yang baru menginjak remaja itu, menjerit karena seorang tentara musuh menebas putus tangan mungilnya.

Al-Husain segera meraih remaja yang mewarisi ketampanan ayahandanya itu. Dengan lembut ia berbisik di telingan kemenakan kecilnya, “Tabahkan hatimu, anakku sayang. Allah akan segera mempertemukanmu dengan ayah dan kakekmu.”

Kini hanya tersisa Al-Husain dan adik tirinya Abbas bin Ali. Penatnya bertempur seharian dan teriknya matahari siang membuat dahaga keduanya tak tertahankan lagi. Mereka pun nekat menerobos barisan tentara Umayyah yang menjaga tepian sungai Eufrat. Berhasil. Dengan tergesa keduanya menciduk air dengan kedua telapak tangannya.

Namun sebelum dahaga itu terobati, hujan anak panah membuat Abbas rebah tak bangun lagi. Sebatang anak panah juga menghujam pipi Al-Husain. Dengan pilu dicabutnya anak panah dan menutup lubangnya dengan telapak tangan. Kepala suami Syahbanu, putri kerajaan Persia, itu kemudian tengadah dan berdoa, “Ya Rabb, hanya kepada-Mu aku mengadu. Lihatlah perlakuan mereka terhadap cucu rasul-Mu.”

Matahari telah condong di ufuk barat. Waktu Ashar yang telah datang menjelang menjadi saksi Al-Husain yang tinggal berjuang sendirian. Wajahnya nampak lelah, meski tak mengurangi sorot keberaniannya, dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka senjata.

Puluhan anggota pasukan Umayyah mengurungnya. Namun seperti tersihir, tak satupun yang berani mengayunkan pedang ke arah Imam Husain. Nampaknya ada keraguan yang menyelimuti benak masing-masing pasukan. Mereka tengah menimbang, “Beranikah menanggung resiko menjadi orang yang menghabisi nyawa cucu Rasulullah?.”

Sementar Al-Husain, dengan segala kewibawaan dan harga diri yang diturunkan ayah dan kakeknya, berdiri di tengah-tengah dengan pedang teracung. Ia berseru lantang, “Apa yang membuat kalian ragu membunuhku. Majulah. Demi Allah, tidak ada pembunuhan yang lebih dibenci Alah dari pada pembunuhanku ini. Sungguh Allah akan memuliakanku, dan menghinakan kalian.”

Melihat Al-Husain sendirian di tengah kepungan musuh, Zainab –yang belakangan di kenal sebagai Bathalah Karbala, pahlawan Karbala—berseru, “Mudah-mudahan langit ini runtuh.” Ketika itulah Umar bin Sa’ad, sang panglima tentara Umayyah, melintas. Zainab pun memanggilnya, “Hai Umar, tega sekali kau melihat Husain dibunuh di depan matamu.” Umar tertegun, matanya nampak berkaca-kaca, namun ia segera berlalu.

Tiba-tiba Syimar Dzil Jausyan mendekati kepungan. Melihat anak buahnya tak ada yang berani menyerang al-Husain, ia pun membentak, “Terkutuk kalian semua! Apa yang kalian tunggu? Cepat bunuh dia! Khalifah akan memberikan hadiah yang besar bagi kalian.”

Bentakan itu seakan membangunkan mereka dari mimpi. Zara bin Syarik mengayunkan pedangnya hingga memutuskan lengan kiri Al-Husain. Masih dalam keadaan limbung, tombakan Sinan bin Nakhi merobohkan tubuh cucu baginda Nabi itu ke tanah. Melihat teman-temannya masih diam tertegun, Sinan segera turun dari punggung kudanya dan memenggal kepala Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Al-Husain wafat pada tanggal 10 Muharram 61 H, lima puluh tujuh tahun setelah Rasulullah mendapat kabar kematiannya dari Malaikat Jibril.

Tak cukup puas, serdadu-serdadu yang sudah kesetanan itu lalu menjarah benda berharga yang melekat pada mayat-mayat pejuang pembela Al-Husain dan merampok barang bawaan di tenda-tenda rombongan Ahlul Bait. Saat itulah Syimar menemukan Ali Asghar, putra Al-Husain, yang sedang terbaring sakit di dalam tenda dengan ditemani bibinya, Zainab. Lelaki biadab itu pun bermaksud menghabisi Ali Ashgar, kalau saja Zainab tidak mati-matian mempertahankannya.

Sambil memeluk keponakannya, wanita pemberani itu berteriak, “Apa akan kau bunuh juga anak yang sedang sakit ini?.”

Syimar ragu-ragu sejenak sebelum memilih untuk meninggalkannya. Mungkin ia berpikir, tanpa dibunuh pun anak yang sedang sakit itu akan mati sendiri, karena kehabisan bekalan makanan, minuman dan obat-obatan. Namun siapa yang tahu rahasia Allah? Justru dari anak yang nyaris terbunuh itulah keturunan Al-Husain kemudian dapat berlanjut hingga saat ini.

Asal Usul Maulid Nabi

Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.

Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.

Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi –orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub –katakanlah dia setingkat Gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.

***

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan Maulid Nabi atau Muludan dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.

Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu perayaan Maulid Nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, artinya Dia mengampuni).

Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata “gerebeg” artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul Fitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Idul Adha).

Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan warga Nahdlatul Ulama (NU). Hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal (Mulud), sudah dihapal luar kepala oleh anak-anak NU. Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakdo Mulud). Ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam.

Ada yang hanya membaca Barzanji atau Diba’ (kitab sejenis Barzanji). Bisa juga ditambah dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadhrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan lain-lain, dan puncaknya ialah mau’izhah hasanah dari para muballigh kondang.

Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan.

Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syqfa’at kepadanya di Hari Kiamat.” Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari lahir rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”